Makna Kebaikan Dalam Perspektif Yang Berbeda
Manusia adalah makhluk sosial. Kita tidak dapat hidup sendiri, dan
melakukan semuanya sendiri. Manusia hidup berdampingan dengan saling
tolong-menolong dalam hal kebaikan. Itulah pelajaran hidup yang selalu
kita dapatkan semenjak kita kecil. Sungguh kita tidak akan mampu memenuhi semua yang kita butuhkan dalam hidup ini. Oleh karena itu senantiasalah berbuat kebaikan terhadap sesama.
Disini kita membahas tentang makna kebaikan dalam kehidupan. Kebaikan bagaikan sebuah bumerang, kemanapun kita lempar, sejauh apapun dia pergi, dia pasti akan berbalik kepada kita. Jadi menebar banyak kebaikan sama saja memberikan kebaikan itu kepada diri kita sendiri. Tentunya setiap individu berbeda-beda dalam memaknai kebaikan itu sendiri.
Ada yang memaknai kebaikan dengan melakukan segala yang terbaik untuk orang-orang di sekitar kita tanpa pernah merasa cukup. Lakukan lagi, lagi dan lagi. Ada yang memaknainya dengan mampu bertahan walau rintangan menghadang, dan selalu optimis meraih impian. Di lain sisi ada yang memaknainya dengan memberi tanpa berharap balas, meminta tanpa memaksa. Dan ada juga yang memaknai kebaikan dengan keikhlasan. Percuma saja jika seseorang melakukan tindakan kebaikan, tapi tidak disertai dengan keikhlasan, maka niscaya kebaikan tersebut tidak akan mempunyai makna apapun.
Makna kebaikan menurut saya adalah hal sederhana yang kita lakukan namun sangat bermakna. Ya, hal sederhana tersebut adalah tersenyum. Dengan tersenyum saja, kita dapat memancarkan aura positif yang dapat membuat orang disekeliling kita merasa tenang dan bahagia. Bukankah senyum itu termasuk sedekah? Selain itu saya juga memaknai kebaikan sebagai ketulusan dan keikhlasan yang terlahir dari dalam hati, tanpa mengenal ruang dan waktu, dia mengalir bagaikan aliran air, yang selalu memberi ketenangan dan kebahagiaan bagi setiap orang.
Ada banyak sekali makna kebaikan dalam kehidupan setiap orang. Itu semua dibedakan tergantung dari perspektif masing-masing orang tersebut. Jangan takut untuk berbuat kebaikan karena kamu merasa akan dikhianati ataupun dizolimi, tetapi takutlah untuk berbuat kejahatan. Karena kegelisahan dan perasaan dendam yang terus bersarang dibenakmu itu lebih sakit.
Janganlah ragu untuk memaafkan seseorang. Memaafkan itu perlu, tidak peduli orang itu hanya mementingkan diri sendiri dan menyakiti kita. Memaafkan itu bukan karena mereka layak mendapatkannya, tapi karena kita layak mendapatkannya. Layak mendapatkan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan.
"Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun." (Ir. Soekarno)
